Valentine “Dulu” dan “Sekarang”


Siapa sih yang gak kenal dengan hari Valentine….???

 

Reda mour

Simbol Amour sebagai icon di hari Valentine

Hari berbagi kasih sayang yang  dirayakan bertepatan pada tanggal 14 Februari tiap tahunnya diramaikan dengan suguhan hadiah bagi pasangannya masing-masing yang identik dengan “coklat” yang dibeli langsung jadi atau resep valentine bikinan sendiri. Tapi apa atau pun segala macam souvenir berbentuk amor khas valentine.Dan di era kini menjadi bagian dari “Lifestyle” bagi para pasangan untuk mengungkpkan rasa kasih sayang satu sama lain. Tapi apa kamu tau dari mana sebenarnya asal-muasal munculnya perayaan hari yang disebut sebagai ‘”hari berbagi kasih sayang'” ini …? yup, berikut ulasannya.

cookie

chocolate cookie bisa jadi pilihan mungkin...?

kreasi cantik hadiah valentine

Hari yang dirayakan sebagai simbol kasih sayang ini bermula dari Festival Lupercalia yang berlangsung di jaman kerajaan Romawi, sekitar abad ke-3. Festival yang berlangsung setiap 13-18 Februari ini diawali dengan persembahan untuk dewi cinta Juno Februata.

Tepat pada 14 Februari, para pemuda akan mengundi nama-nama gadis dari dalam kotak kaca. Gadis yang terpilih akan menjadi pasangannya selama setahun untuk kesenangan dan objek hiburan.

Sehari kemudian, mereka akan meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan makhluk jahat. Saat itu, para pemuda akan melecut para gadis dengan kulit binatang. Mereka percaya lecutan itu akan meningkatkan kesuburan para gadis.

Festival itu tak jarang membuat banyak pasangan saling jatuh cinta, berpacaran, dan akhirnya menikah. Dalam perkembangannya, penguasa dan para tokoh agama setempat mengadopsi upacara ini dengan nuansa Kristiani seiring masuknya Kristen Katolik sebagai agama kerajaan.

Saat Romawi terlibat peperangan, efek festival itu membuat Kaisar Claudius II, yang berkuasa saat itu, kesulitan merekrut pemuda untuk memperkuat pasukan perangnya. Banyak pemuda yang berat meninggalkan keluarga dan kekasihnya.

Atas kondisi itu, Claudius II akhirnya memerintahkan untuk membatalkan semua pernikahan dan pertunangan di Romawi. Kebijakan ini rupanya mendapat pertentangan dari salah satu pastor setempat bernama Valentine.

Konon, Claudius II pun murka melihat Valentine diam-diam tetap menikahkan pasangan yang jatuh cinta. Sang kaisar segera memerintahkan pengawal kerajaan untuk menangkap Valentine dan memenggalnya. Valentine meninggal tepat 14 Februari tahun 270 Masehi.

Demi mengenang perjuangan Santo Valentine, tokoh agama mengganti nama festival Lupercalia dengan festival Valentine. Dalam perkembangannya, 14 Februari menjadi momentum sakral bagi para pria untuk memilih gadis yang hendak dijadikan pasangan hidupnya.

lukisan David Termier III

Pastur Valentine tengah menerima tasbih daru The Virgin Mari-Lukisan Oleh David Termier III

Dan Eng Ing Eng!!

Ritual Valentine kini seolah membudaya di seluruh belahan dunia tak terkecuali Indonesia sendiri. Diramaikan dengan suguhan hadiah bagi pasangannya masin-masing yang identik dengan “coklat” atau pun segala macam benda berbentuk amor.

Meski sempat menjadi kontroversi oleh para pemuka agama yang memperdebatkan tentang “kelayakan” ritual perayaan kasih sayang yang dipelopori oleh para kaum Nasrani yang sebenarnya lebih merujuk kepada penghormatan pada sang pastor Valentine tersebut.

Yah tapi pada akhirnya kembali pada kesadaran diri masing-masing saja ya… (NO SARA)

Please Ur comment…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: